Labels

  • berita (2)

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 September 2012

Pengisap Rokok Mentol Lebih Rentan Terkena Stroke


Washington: Di antara para perokok, orang yang memilih rokok mentol cenderung menghadapi kemungkinan lebih besar untuk terserang stroke ketimbang pengisap rokok non-mentol. Hal itu tampaknya sangat tepat bagi perempuan dan orang Amerika non-Afrika. Demikian hasil sebuah penelitian terbaru di Amerika Utara.
Penulis studi tersebut menyatakan meskipun tak ada rokok yang baik buat kesehatan, temuan itu–yang belum lama ini diterbitkan di Archives of Internal Medicine–menyatakan orang mesti benar-benar menjauhkan diri dari semua rokok bermentol.
“Semuanya memang buruk, semuanya sudah dikatakan, dari perspektif pengurangan bahaya studi ini memberi pendapat untuk menghindarinya–setidaknya–jenis yang bermentol,” kata Nicholas Vozoris, seorang petugas klinik di St. Michael`s Hospital di Toronto, Kanada.
Untuk studi tersebut, Vozoris menggunakan informasi yang diambil dari survei gaya hidup dan kesehatan AS yang mencakup 5.028 perokok dewasa. Survei itu dilakukan dari 2001 sampai 2008.
Secara keseluruhan, sebanyak 26 persen responden mengatakan mereka biasanya mengisap rokok mentol, dan sisanya mengisap rokok tanpa mentol.
Beberapa ahli mengatakan mentol mempermudah orang untuk mulai merokok dan lebih sulit untuk berhenti sebab rasanya menyelubungi kerasnya tembakau.
Di antara pengisap rokok mentol, 3,4 persen mengatakan dalam survei tersebut mereka pernah menderita stroke. Sementara itu, sebanyak 2,7 persen perokok tanpa mentol terserang stroke.
Setelah memperhitungkan jenis kelamin, suku dan usia perokok serta jumlah rokok yang diisap, Vozoris mendapati pengisap rokok mentol memiliki risiko dua kali lipat untuk terserang stroke dibandingkan dengan mereka yang memilih rokok non-mentol.
Perbedaan tersebut sangat jelas pada perempuan dan orang yang melaporkan dari suku selain Amerika-Afrika di dalam survei mereka. Di antara peserta studi itu, stroke tiga kali lebih umum dibandingkan dengan penghisap rokok mentol.
Vozoris mengatakan kepada Reuters Health, studi tersebut tak bisa membuktikan rokok mentol saja mengakibatkan peningkatan risiko stroke, dan bukan perbedaan tak terukur antara penghisap rokok mentol dan tanpa mentol.
Ia menambahkan perempuan dan orang Amerika non-Afrika tampaknya menjadi penyebab kaitan antara rokok bermentol dan stroke. Namun, ia merasa tak yakin mengapa dan studi itu juga tak menjawabnya.
Memilih rokok bermentol tak berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru kronis atau serangan jantung dibandingkan dengan rokok standar.
Gordon Tomaselli, Presiden American Heart Association dan Kepala Kardiologi di Johns Hopkins University School of Medicine, mengatakan menarik bahwa studi tersebut memperlihatkan kaitan antara mengisap rokok bermentol dan stroke tapi bukan dengan tekanan darah tinggi.
Vozoris mengatakan mungkin saja mentol pada rokok memiliki dampak pada pembuluh darah, terutama yang memasok otak.
Menurut US Center for Disease Control and Prevention, mengisap rokok jenis apa pun meningkatkan risiko seseorang terserang sakit jantung sebanyak dua sampai empat kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.
Tomaselli, yang tak menjadi bagian dari studi itu, menambahkan, “Ini mengingatkan kita bahwa dampak mengisap rokok sangat luas dan itu mempengaruhi sejumlah sistem organ tubuh.”(ANS/Ant)
sumber : liputan6.com

Makanan Jatuh di Lantai, Masih Layakkah Disantap?


Manchester: Apakah makanan yang sudah jatuh di lantai masih layak disantap?
Para peneliti dari Inggris menjawab pertanyaan tersebut. Makanan yang sudah telanjur jatuh di lantai masih bisa dan layak disantap bila belum lebih dari satu menit.
Seperti diwartakan ZeeNews, Jumat (4/5), gagasan bahwa makanan tidak terkontaminasi jika diambil dengan cepat telah diyakini selama bertahun-tahun. Tapi belum ada bukti luas bahwa hal ini terjadi. Manchester Metropolitan University (MMU) menguji lima makanan untuk melihat apakah aturan tiga detik bisa dipercaya.
Roti dengan selai, pasta, ham, biskuit dan buah kering semua jatuh di lantai dan dibiarkan selama interval tiga, lima dan 10 detik. Makanan tersebut dipilih karena mereka adalah makanan yang biasa dimakan dan semua memiliki tingkat aktivitas air yang berbeda. Sebuah faktor kunci dalam kandungan makanan itu akan mempertahankan pertumbuhan bakteri dalam tiga detik sebelum makanan dipungut dari lantai.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan dengan garam tinggi atau berkadar gula, seperti roti dengan selai, lebih aman untuk dimakan setelah dipungut. Hal itu karena kesempatan bakteri berbahaya yang masih hidup pada item tersebut berkurang. Makanan olahan menimbulkan risiko terendah. Umumnya makanan tersebut mengandung kadar tinggi gula dan garam.
“Roti dan selai tidak menunjukkan pertumbuhan bakteri setelah terjatuh di lantai. Hal itu dikaitkan dengan kandungan gula yang tinggi dari membuatnya tidak mungkin untuk mendukung pertumbuhan mikroba,” ungkap Kathy Lees, salah seorang peneliti.
Kedua ham, produk asin, dan roti manis dan selai bernasib juga masih dalam keadaan baik. Ketika diambil dari lantai dalam waktu tiga detik, bahan makanan itu menunjukkan sedikit tanda pertumbuhan bakteri.
Buah kering dan pasta, di sisi lain. Makanan itu menunjukkan tanda-tanda Klebsiella setelah tiga detik. Bakteri yang berpotensi dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti pneumonia, infeksi saluran kemih, septikemia, dan kondisi jaringan lunak ditemukan pada makanan yang sudah jatuh ke lantai. (ZeeNews/Vin)

sumber : liputan6.com